Sunday, July 12, 2015

RABI'AH MASA TUA

ALL PRAISE is due to Allah, as He is a munificent, gracious and compassionate Lord, Who has gathered all knowledge in His Essence and Who is the Creator of all knowledge for eternity. The cause, the reason of all existence is from His existence.

Prisse d'Avennes, MOSQUEE D'AHMED-IBN-TOULOUN, ARCADE ET FENETRES INTERIEURES

RABI'AH MASA TUA

Dalam sekali seminggu, Hasan Al-Basri mengadakan pertemuan di mana dia akan menyampaikan khutbah. Setiap kali naik ke atas mimbar, dia akan mencari-cari Rabi'ah, dia tidak akan memulakan khutbah selagi tidak ternampak akan Rabi'ah.
Sehinggakan orang-orang di situ mencelanya dan mengatakan, "Begitu ramai orang penting dan terkemuka berkumpul di sini. Apa gerangannya jika seorang wanita tua berhijab tidak datang ke sini?".

Hassan menjawab.......
"ANGGUR YANG DIPERUNTUKKAN UNTUK GAJAH,
TIDAK BOLEH DITUANGKAN 
KE DALAM DADA SEMUT"

Setiap kali di dalam majlis pertemuan tersebut menjadi semakin hangat dan bersemangat kerana mendengar kata-katanya, Hasan Al-Basri akan berpaling kepada Rabi'ah dan berkata,
"Duhai, meskipun tersembunyi di sebalik hijab, segenap hasrat dan ghairah ini timbul hanya dari bara api yang ada di dalam kalbumu.


Ibn Al-Jawzi dalam Shifah al-Shafwah, menceritakan kisah berikut daripada Muhammad ibn 'Amr:

 Ketika aku menemui Rabi'ah, beliau sudah tua dan berusia delapan puluh tahun, sangat tua dan rapuh seperti kulit kering. Nampak seperti jika engkau menyentuhnya, dia akan luruh berkeping-keping.
Didalam rumahnya, aku melihat hanya ada tikar anyaman yang koyak dan sebuah penyangkut baju yang diperbuat daripada buluh Parsi setinggi dua meter.
Atap rumahnya adalah daripada ranting-ranting pohon palma. Ada sebuah bekas air dan sehelai kain kain bulu dan di sebelah tempat tidur dan tempat solatnya. Selain itu, ada sehelai tikar anyaman tempat beliau meletakkan kain kafannya.
Selain itu, tidak terdapat apa-apa barang lagi. Beliau menolak apa sahaja yang diberikan orang kepadanya, sambil berkata, 
"Aku tidak memerlukan dunia ini".

Munawi menulis dalam Thabaqat Al-Auliya', bahawa,
"Rabi'ah merasa sangat malu di dapan Allah sehingga selama empat puluh tahun dia tidak pernah mendongakkan kepalanya ke langit".


Alhamdulillah.......
From our library.
Picture from: 
ARAB ART I, reprinted by Eastern Art, by Khayat Book & Publishing, Lebanon. (Premier Volume).

Tuesday, July 7, 2015

Syeikh Abdul Qadir al-Jailani membaling terompah ke langit..!!!

ALL PRAISE is due to Allah, as He is a munificent, gracious and compassionate Lord, Who has gathered all knowledge in His Essence and Who is the Creator of all knowledge for eternity. The cause, the reason of all existence is from His existence.


Baghdad Qur'an, Juz' 4, folio 41r, surah Al-Imran, ayat 119-200, Black Muhaqqaq script of  Ibn Suhrawardi and Muhammad ibn Aybak the illuminator.


Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani membaling terompah 
ke langit...!!! 


 Terdapat satu peristiwa di mana seorang wanita muda yang tinggal di Ceylon (merupakan pengikut Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani) sedang diserang oleh seorang lelaki di tempat sunyi. Dalam keadaan yang cemas dan berputus harapan, wanita itu tadi menjerit.
"Selamatkalah saya, wahai Syeikh Abdul Qadir..!"

Pada ketika itu Syeikh sedang mengambil wudhuk di Baghdad. Beliau tersentak. Orang ramai melihat beliau tiba-tiba berhenti mengambil wudhuk. 
Dengan keadaan yang sangat marah Syeikh Abdul Qadir mengambil terompahnya lantas membaling ke udara.
Mereka yang berada bersama Syeikh di situ tidak nampak terompah itu jatuh ianya  seakan-akan terus lenyap di langit.

Serta-merta terompah itu tadi sudah terkena pada kepala lelaki yang menyerang wanita muda tersebut. Lalu lelaki itu mati.

Dikatakan terompah itu masih berada di Ceylon (Sri Lanka) dan disimpan sebagai relik.




Alhamdulillah....
Wallahu'alam.
 

Thursday, October 23, 2014

PENGHORMATAN TERHADAP ILMU DAN ORANG ALIM

DENGAN MENYEBUT NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG

Segala puji hanya milik Allah yang telah mengangkat derajat umat manusia dengan ilmu dan amal, seluruh alam. Selawat dan salam semoga tetap terlimpah atas Nabi Muhammad saw, pemimpin seluruh umat manusia, dan semoga pula tercurah atas keluarga dan para sahabatnya yang menjadi sumber ilmu dan hikmah.


This photo taken by writer, Amir Muhammad

Penghormatan terhadap Ilmu dan orang Alim

Para penuntut tidak akan memperoleh ilmu dan tidak akan dapat mengambil manfaatnya, tanpa menghormati ilmu dan guru.

Imam As-Syairazy berkata:
"Guru-guruku berkata, Barangsiapa yang ingin anaknya menjadi orang alim, maka dia harus menghormati para ahli fiqih, dan memberi sedekah pada mereka. Jika ternyata anaknya tidak menjadi orang alim, maka cucunya akan menjadi orang alim".

Menghormati guru ialah, hendaknya seorang murid tidak berjalan di depannya, tidak duduk di tempatnya, dan tidak memulai bicara padanya kecuali dengan izinnya.

Hendaknya tidak banyak bicara di hadapan guru, tidak bertanya sesuatu apabila guru sedang letih atau penat atau bosan. harus menjaga waktunya, jangan mengetuk pintunya, tetapi sebaliknya menunggu sehingga beliau keluar.

Salah seorang pembesar negeri Bukhara duduk dalam majlis pengajian, di tengah-tengah pengajian, dia sering berdiri. Lalu teman-temannya bertanya mengapa berbuat demikian. Dia menjawab, sungguh putra guruku sedang bermain di jalan oleh kerana itu jika aku melihatnya aku berdiri untuk menghormatinya.

Al Qadhi Fahruddin adalah seorang imam di daerah Marwa yang sangat dihormati oleh para pejabat negara. Beliau berkata, 
"Aku mendapat kedudukan ini kerana aku menghormati guruku, Abi Yazid Addabusi. Aku selalu melayani beliau, memasak makanannya, dan aku tidak pernah ikut makan bersamanya".

Para penuntut ilmu dilarang meletakkkan kitab dekat kakinya ketika duduk bersila. hendaknya kitab tafsir diletakkan di atas kitab-kitab lain, dan hendaknya tidak meletakkan sesuatu di atas kitab.

Penuntut harus bagus dalam menulis kitabnya. Tulisannya harus jelas, tidak terlalu kecil sehingga sulit dibaca. Imam Abu Hanifah pernah melihat muridnya yang tulisannya sangat kecil sehingga tidak jelas, lalu beliau menegurnya,
"Jangan terlalu kecila dalam menulis, karena jika kamu sudah tua, pasti kamu menyesal, dan bila kamu mati, kamu akan dimaki orang yang melihat tulisanmu. (yakni jika kamu sudah tua dan pandangan mata sudah lemah, maka akan menyesal dengan perbuatan itu).

Seharusnya kitab itu dibentuk empat segi, begitu yang biasa dikerjakan oleh Imam Abu Hanifah. Supaya mudah dibawa dan dibaca.
Seharusnya tidak memakai tinta merah dalam menulis kitab, kerna hal itu kebiasaan para filosof, bukan kebiasaan Ulama salaf. Bahkan guru kami ada yang tidak mahu memakai kenderaan berwarna merah.

Hendaknya para penuntut ilmu mendengarkan ilmu dan hikmah dengan rasa hormat, sekalipun sudah pernah mendengarkan masalah tersebut seribu kali.


these pigments made by Huda Din at Sanaa, Yemen.

Alhamdulillah.

Ta'lim Muta'allim
Syaikh Az-Zarnuji
penterjemah Abdul Kadir Aljufri
Surabaya.

Sunday, June 8, 2014

Jin-Jin berkabung Meratapi Kematian Sayyidina 'Umar al-Khattab RA

DENGAN NAMA ALLAH YANG PEMURAH LAGI MAHA PENYAYANG 
SERTA SELAWAT DAN SALAM KE ATAS JUNJUNGAN BAGINDA MUHAMMAD SAW BESERTA KELUARGANYA


This picture taken by writer: Amir Muhammad, Yemen 2009


Jin-jin berkabung meratapi kematian Sayyidina 'Umar RA

Diriwayatkan dari Malik bin Dinar, ia berkata, "Saat 'Umar Al-Khattab terbunuh, terdengarlah senandung syair dari arah gunung Tabalah (nama sebuah gunung yang terletak di Yaman),

Tangisilah Islam wahai orang yang menangis 
Mereka telah menyariskan kematianku
namun masa tiada kunjung tiba 
Dunia telah berlalu
Bersama kebaikan-kebaikannya
Ditemui orang-orang yang yakin dengan janji
ketika orang-orang melihatnya, mereka tidak mendapati
sesuatu apa pun
                                                                                                                                      (HR. AL-Hakim)


Diriwayatkan dari Ma'ruf Al-Mushili, ia berkata, "Saat 'Umar RA ditikam, aku mendengar suara (senandung syair sebagaimana bait syair tadi).


Diriwayatkan dari Aisyah RA, beliau berkata, "Pada suatu malam yang belum aku alami (kesedihannya sebagaimana malam kematian 'Umar RA) aku mendengar seseorang menyatakan belasungkawa atas kematian 'Umar RA, seraya bersenandung;

Semoga Allah membalas Amir
Dengan sebaik-baik balasan
semoga Allah memberkati
Kulit yang tercabik-cabik itu
Siapa yang berjalan
atau melihat sayap burung untaku
Tentu ia mengetahui
Apa yang telah kupersembahkan kelmarin lalu
Telah kutunaikan beberapa hal
kemudian kutinggalkan bencan-bencana
di kantongnya yang belum tersobek


Diriwayatkan dari Sulaiman bin Yasar, ia berkata, "Seorang jin pernah meratapi kematian 'Umar RA dengan sambil bersenandung;

Selamat tinggal hai Amir
Semoga Tuhan memberkati
kulit yang tercabik itu
Telah kutunaikan beberapa hal
kemudianku tinggalkan bencan-bencan
Di kantongnya dan belum tersobek
Siapa yang berjalan atau menaiki sayap burung untaku
Tentu ia mengetahui Apa yang telah kupersembahkan kelmarin lalu
Sungguh pembunuhan yang paling terkutuk di Madinah
Bumi gelap-gelita olehnya
Pohon-pohon berduri pun bergoncang



Alhamdulillah,

dari library kami...

Petunjuk Nabi menentang Ancaman Syaitan
Susunan: Muhammad Hadrami
2010.
ISBN: 978-983-44868-0-8

Friday, July 26, 2013

Al-Imam al-Ghazali's efforts in defeating the Batini Shiites

All praise and thanks belong to ALLAH alone, the One, the Almighty, and All-Merciful and peace be upon Prophet Muhammad, the last Messengers and Prophets.





Al-Imam al-Ghazali's efforts in efforts in defeating the Batini Shiites

One of the beneficial effects of the Nizami schools was that they paved the way for the Sunni madh-hab to prevail. This was no easy task; rather it was the outcome of tremendous efforts, great sacrifies and remarkable cooperation. Another of its most prominent effects was the shrinking of Shiites influences, especially after the appearance of books refuting it which were produced by these schools.

Imam al-Ghazali, the Sunni scholar, was foremost among the thinkers who launched an all-out war against the heretical Shiites through his writing. It was said that he wrote numerous books concerning that, the most famous of which was Fada'ih al-Batiniyah, which he was commissioned to write in 487 AH by the caliph al-Mustazhir. But the most amazing thing is the courage shown by al-Ghazali in his campaign against the Batini Ismailis, at a time when their preachers were widespread in Persia and the danger they posed reached such a point that they established fortresses and citadels and threatened people's safety. They carried out carried out assassinations on a wide scale, targeting many politicians and thinkers, foremost among whom was Nizam al-Mulk himself.

Al-Ghazali began this campaign on the orders of the authorities, in addition to his own desire as a Sunni scholar to do his duty in defending true Islam. This is something wonderful, when the efforts of the political authorities coincide with the efforts of the scholars to achieve the aims of Islam. Through institutions that benefit both society and the state, such as the role played by the Nizami schools in resisting Batini Shiite thought and influence, this is achieved.

The Fatimid state had equipped itself with Batini philosophy and beliefs and emerged as a political and religious entity. It was, as Professor Nadawi states, more dangerous in Islam than philosophy, because philosophy was living in its ivory tower far away from the ordinary people and the masses. But Batiniyah was trying to spread in society and infuse it with a poison, and it offered powerful, material temptations.

In the Muslim word at the end of the fifth century AH there was no one who was more able to refute it, expose its secrets and reject what this call was based on than al-Ghazali. The writings of al-Ghazali were effective in refuting batiniyah. With his sharp mind and the fame that he had acquired, he was able to be a strong influence in resisting batiniyah and supporting the Sunni madh-hab. He was able to use his Sharia knowledge and his rational knowledge of philosophy, logic and theology to blow away the roots of the Batini madh-hab.

His comments about them were on everyone's lips and became like proverbs: Outwardly hide behind Shiism but they have nothing to do with the Shiites; rather it is a mask behind which they hide their plots against the people of Islam. Among the things that were said about al-Ghazali was that he was continually criticizing this group, uncovering the contradictions in its thought and exposing its scandalous deeds and bad intentions. Despite the fact that he was well known at this time, this criticism could have cost him his life. He himself witnessed the assassination of the great statesman Nizam al-Mulk.

The Batini Shiites used to threaten everyone among those who were close to the king or among the scholars who they thought posed a danger to them. They threatened them with vengeance at the point of a dagger or in poisoned food or some other method which they were skilled in and carried out with all precision. If this proves anything, it proves the courage of al-Ghazali in speaking the truth out loud and confronting falsehood, regardless of the outcome and his faith that nothing would befall him except that which Allah had decreed for him.

This is a lesson and reminder for contemporary scholars to be sincere towards ALLAH in resisting the new Batinis. Some scholars have even contributed to deceiving the Muslim masses even though they are well aware of the danger that these people pose to the beliefs and morals of the Ummah. Do they not fear a Day when hearts and eyes will be overturned.

(Quran 24:37) and Allah will ask the truthfull (Allah's Messengers and His Prophets) about their truth (i.e. the convenyance of Allah's Message that which they were charged with) .



Alhamdulillah,

from our library : Salah ad-Deen al-Ayubi, VOLUME ONE, Crusades prior t the Rise of the
                             Ayubid State.
                             By Dr. Ali M. Salibi,  translated by Nasiruddin al-Khattab
                             INTERNATIONAL ISLAMIC PUBLISHING HOUSE, Riyadh, Saudi.
                             English Edition : 2010
                             Translated from the Arabic Edition : 2008
                             (available at Dakwah Corner Bookstore Petaling Jaya, Malaysia)


Sunday, April 28, 2013

THE MINISTERS AROUND THE PROPHET s.a.w

IN THE NAME OF ALLAH THE MOST BENEFICENT, 
THE MOST MERCIFUL




The Ministers around the Prophet s.a.w

1- Al-Miqdad bin 'Amr  rha  (The first Horse soldier of Islam)

 He is Al-Miqdad bin (bin means son of) 'Amr bin Tha'labah bin Malik bin Rabi'ah bin 'Amir bin    Matrud Al-Bahrani, and it is said, Al-Hadrani. His father is 'Amr bin Tha'labah. His Kunyah: Because he liked kittens, a famous Companion of the Prophet s.a.w is known not by the name he was given at birth, but by his kunyah "Abu Hurairah" Hurairah meaning a small cat. As for
 Al-Miqdad's kunyah, it has been said that it is 'Abul-Aswad; it has also been said that it is Abu 'Umar; and it has also been said it is Abu Sa'id.


2- 'Abdullah bin Mas'ud rha  (The first to openly Recite the Quran in Makkah)

He is 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib bin Shamkh bin Far bin Makhzum bin Sahilah  bin Kahil bin Al-Harith bin Sa'ad bin Hudhail al-Hadhali. His mother's full name is Umm' Abdullah bint Wadd bin Suwa'ah. Ibn Mas'ud was known by the kunyah, Abu 'Abdur-Rahman.


3- Hamzah bin 'Abdul-Muttalib rha  (The Chief of Matyrs)

He is Hamzah bin 'Abdul-Muttalib bin Hashim bin 'abd Manaf bin Qusai. His mother's full name is Halah bint (daughter of) Wuhaib bin 'Abd Manaf bin Zuhrah; she is the first cousin (from the father's side) of Aminah bint Wahb, the mother of the Prophet s.a.w. Hamzah is not only the Prophet's uncle, for they were suckled by the same woman, Thuwaibah the freed slave of Abu Lahab bin 'Abdul-Muttalib. Hamzah was two years older than the Messenger of Allah s.a.w. His Kunyah: by dint of two sons, Ya'la and 'Umarah, Hamzah's Kunyah was either Abu Ya'la or Abu 'Umarah.


4- Abu Bakr As-Siddiq rha

He is 'Abdullah bin 'Uthman bin 'Amir bin Ka'b bin Sa'd bin Taim bin Murrah al-Qurashi at-Tamimi. He was born two years and six months after the Year of the Elephant, the year in which the Prophet saw was born. Not only he a high-ranking member of the Quraish, but he was a scholar as well. Having an in-depth knowledge of the lineage of Quraish tribesmen in particular and Arabs in general, Abu Bakr was perhaps the most knowledgeable genealogist of his time. and he was like the Prophet saw in that, during the days of ignorance (before the advent of Islam), he stayed away from the revelry and merrymaking that was common among Makkah youths. Instead, he dedicated himself to more serious pursuits; in addition to being a scholar in genealogy, he was also respected tradesman, known to all for his noble manners and honest dealings.


5- Abu Dharr Al-Ghifari rha

He is Jundub bun Junadah bin Sakan bin Junadah bin Qais bin 'Amr bin Mulail bin Su'air bin Haram bin Ghifar. and his mother's full name is Ramlah bint Al-Waqimah al-Ghifariyyah. He was tall and skinny, and brown in complexion. Among the Prophet's Companions saw were some who were extremely poor, having neither home nor family; these stayed in the Prophet's Masjid, eating and sleeping there. A special place in the Masjid was allocated for them, and they became known as the People of Suffah. They consisted mainly of people who migrated to Al-Madinah. Having migrated from Ghifar and possessing very little in terms of wealth, Abu Dharr was from the People of Suffah.


6- 'Ali bin Abu Talib rha 

He is son 'Ali bin (son of) Abu Talib bin 'Abdul Muttalib bin Hashim bin 'Abd Manaf bin Qusay bin Kilab bin Murrah. His father, then was Abu Talib, a Makkan chieftain and a strong protector of the Messenger of Allah saw in the early days of Islam. Abu Talib is still remembered and respected for supporting the Prophet saw in many occasions, which he was only able to do because he was considered a major figure and leader among the Quraish: everyone loved him, venerated him, and held him in awe- all because of his noble qualities, just character, and stately deportment. 'Ali was born 23 years before the Hijrah and 10 years before the Prophet saw received revelation for the first time. His Kunyah; is Abul-hasan. He is in brown complexion, was most part bald, having hair only on the back of his head.


7- Hudhaifah bin al-Yaman rha

He is Hudhaifah bin Al-Yaman, his full name is Hudhaifah bin Hisl (or Husail) bin Jabir bin 'Amr bin Rabi'ah bin Jarwah bin Al-Harith bin Mazin bin Qati'ah bin 'Abs bin Baghid bin Raith bin Ghatafan. His Kunya; is Abu 'abdullah Al 'Absi.


8- 'Ammar bin Yasir rha 

He is 'Ammar binYasir bin 'Amir bin Malik bin Kinanah bin Qais bin Al-Husain bin Ar-Radhim bin Tha'labah bin 'Awf bin Harithah bin 'Amir bin Yam bin 'Abs bin Malik al-Ansi. And his mother's name is Sumayyah bint Khayyat. He was born known by the Kunyah, Abul-Yaqzan.

"Patience, O family of Yasir, for your appointment (or promise) is Paradise"
(Al-Hakim 3/382, and Al-Majma' 9/293)



9- Bilal bin Rabah rha

His name is Bilal bin Rabah, his mother, Hamamah, was born in Makkah, and she belonged to the clan of Banu Jumah. His Kunyah is not known for certain; it is said, however, that his kunyah is Abu 'Abdul-Karim, though some maintain that it is Abu 'Abdullah, while yet others hold that it is Abu 'Amr. The first slave to accept Islam, Bilal bin Rabah was among the early followers of the Prophet saw, and he also lays claim to the distinction of being person from Habashah to accept Islam.


10- 'Umar bin Al-Khattab rha

He is 'Umar bin Al-Khattab bin Nufail bin 'Abdul-'Uxzza bin Rabah bin 'abdullah bin Qurt bin Razah bin 'Adi bin Ka'b bin Lu'ai Al-Qurashi. His mother, the sister of Abu Jahl, is Hantamah bint Hashim bin Al-Mughirah Al-Makhzumiyyah. 'Umar was born 13 years after the Year of Elephant. His kunyah is Abu 'Abdullah, and the Prophet saw gave him the Kunyah Abu Hafs.


11- Ja'far bin Abu Talib rha

He is Ja'far bin abu Talib bin 'Abdul Muttalib bin Hashim bin Manaf bin Qusay Al-Qurashi Al Hashimi; he is the cousin of the Messenger of Allah saw. His Kunyah is Abu 'Abdullah though the Messenger of Allah saw used to call him 'Abul-Masakin, literally meaning 'father of the poor, for his generosity and kind charitable acts.


Alhamdulillah......


Book : The Ministers around the Prophet (peace be upon Him)
Compiled by: Abdul Aziz Ash-Shanawi
2004
Maktaba DARUSSALAM- Global Leader in Islamic Books
ISBN: 9960-899-86-1

Wednesday, December 19, 2012

PERDANA MENTERI NIZAM al-MULK

IN THE NAME OF ALLAH 
THE MOST BENEFICENT, THE MOST MERCIFUL





Perihal Nizam al-Mulk ini diulas oleh Imam al-Zahabi di dalam kitab Siyar A'lam al-Nubala, katanya:

"Perdana Menteri Nizam al-Mulk Qawwam al-Din, Abu  'Ali, Hassan bin 'Ali bin Ishaq al-Thusi ialah seorang yang pintar, ahli politik, pentadbir medan lapangan, berkeperibadian tinggi, seorang yang amat baik dan pemalu. Majlisnya sering dikunjungi oleh para fuqaha dan qura'. Beliau telah membangunkan universiti yang besar di Baghdad, Naisabur dan Thus. Beliau dikenali sebagai seorang yang sangat menyukai ilmu pengetahuan , selalu berinteraksi dengan para penuntut ilmu dan kerap meriwayatkan hadis." 

Keadaan ini terus dilaksanakannya sehingga beliau diangkat menjadi menteri pada era Alp Arslan seterusnya pada zaman anaknya (Alp Arslan) iaitu Malik Shah I. Pada masa pemerintahan inilah beliau mengatur masalah negara dengan lebih teratur. Beliau berjaya meminimakan kes jenayah, bersikap baik kepada rakyatnya dan mampu membangunkan wakaf sehingga para pembesar rapat dengannya.

Beliau turut menasihatkan Malik Shah I agar melantik para panglima perang dan pegawai pentadbir yang beragama, bermoral dan berani.

Ibn Katsir sendiri menyifatkan beliau di dalam bukunya, Al-Bidayah Wa Al-Nihayah;

"Beliau adalah seorang pemerintah yang memiliki perjalanan hidup yang begitu baik."

 Anaknya bernama 'Imad al-Din Zanki merupakan orang pertama yang melancarkan pertahanan terhadap serangan tentera salib. Seterusnya perjuangannya dilanjutkan pula oleh anaknya yang terkenal, Nur al-Din Mahmud Zanki. Keluarga inilah yang melatakkan para panglima serta bibit kemenangan umat Islam terhadap serangan kaum Salib di bawah pimpinan terkemudian seperti Salah al-Din al-Ayubi, Zhahir Baibars dan Ahmad Qalawun. Mereka inilah yang membuka ruang penyatuan dan kesepaduan dunia Islam menentang serangan tentera Salib Kristian selama dua kurun.

Ibn al-Atsir ketika menceritakan keperibadian ini di dalam kitabnya Al- Kamil fi Al-Tarikh;

"Beliau adalah anak seorang bekas hamba berbangsa Turki yang dikenali sebagai seorang sangat baik. Beliau sangat gemar mendampingi orang alim, melihat kebaikan dan melaksanakannya. terkenal sebagai seorang gabenor yang sangat baik, menjaga solat tepat pada wktunya dan sering bertahajud di waktu malam."


CINTANYA TERHADAP ILMU 

 Beliau terkenal dengan sikap sukakan ilmu pengetahuan, menghormati para ulama dan mendampingi mereka. Beliau gemar mendalami ilmu hadis, seraya berkata;

"Aku sedar bahawa aku tidak layak untuk meriwayatkan hadis tetapi aku lebih senang berada sebaris dengan orang yang meriwayatkan hadis Rasulullah saw." 

 Beliau mendengar hadis dari al-Qusyairi, Abu Muslim bin Mahar Bazad dan Abu Hamid al-Azhari. Beliau juga sangat mengambil berat mengenai universiti yang ditubuhkannya agar sentiasa berfungsi. 

Diceritakan juga bahawa belaiu mampu menghafal al-Quran al-Karim ketika usianya baru mencecah 11 tahun. Beliau banyak mengamalkan mazhab Syafii dalam usul ibadahnya dan tidak akan duduk kecuali dalam keadaan berwuduk. Tidak pernah beliau berwuduk melainkan selepas iti beliau akan menunaikan solat sunat wuduk.

Apabila mendengar azan segala kerjanya akan dihentikan dan akan segera ke masjid untuk menunaikannya. Jika muazzin lambat melaungkan azan beliau sendiri yang akan memerintahkan agar melaungkannya. Ini merupaka kemunca keperibadian yang sukar ditemui dalam kehidupan hari ini.
  
KEMANGKATANNYA 

 Pada hari Khamis bertarikh 10 Ramadhan 485 H bersamaan thanu  1092. Selepas waktu berbuka puasa, Nizam al-Mulk menunaikan solat Maghrib dan selepas itu beliau  duduk di meja makan bersama para qura, fuqaha dan ulama. Beliau menyebut bahawa beliau berada di bumi yang mulia iaitu tanah Nahawand.

Beliau juga menceritakan tentang kisah peperangan kaum muslimin dengan bangsa Parsi pada era pemerintahan 'Umar Al-Khattab. Apabila selesai berbuka puasa, beliau keluar menuju ke khemah isterinya tanpa menyedari pergerakannya diikuti.

Seorang pemuda dari Dailam bersedia menyerangnya dengan berpura-pura meminta bantuan. Tatkala dia terleka itulah pemuda tersebut memukulnya dan diheret ke khemah isterinya. Tidak lama kemudian beliau telah menghembuskan nafas yang terakhir di khemah isterinya. Sultan Malik I segera datang dan mengucapkan takziah sambil menahan kesedihan.

Sementara itu, pemuda yang membunuhnya itu ditemui sedang bersembunyi dalam sebuah khemah. Beliau dibawa keluar dan dibunuh serta merta. Sebahagian hamba Nizam al-Mulk memberitahu kepada mereka bahawa beliau berpesan;

  "Janganlah kamu membunuh orang yang menyerangku kerana aku telah memaafkan 
    kesalahannya".

Antara sumbangannya adalah menubuhkan Universiti Nizamiyah di Bahgdad dan beberapa buah bandar lain. Beliau juga sempat menyiapkan buku dalam bahasa Parsi iaitu Siyasat Nameh (Buku Kerajaan) dan Dustur al-Wuzura (Perlembagaan Menteri) yang ditulis untuk anaknya iaitu abu al-Fath dan Fakhr al-Malik.



Buku Kerajaan


Alhamdulillah.

Book: Era Kebangkitan Kerajaan Uthmaniyyah (1299M-1453M)
Mohd Fikri Che Hussain
Hijjaz Records Publishing
Kota Damansara.